Paroki Bojong Indah, dengan Gereja Santo Thomas Rasul sebagai gereja parokinya, berdiri pada 27 Agustus 1981 dan bertumbuh dari komunitas umat di Wilayah Bojong Indah yang sebelumnya merupakan bagian dari Paroki Trinitas Cengkareng. Bermula dari komunitas kecil yang merayakan Ekaristi di sekolah dan rumah umat, paroki berkembang melalui doa, kebersamaan, pelayanan, dan pengorbanan banyak orang.

Dalam dokumen dan catatan sejarah awal, paroki ini banyak disebut sebagai Paroki Santo Thomas Rasul. Seiring perkembangan umat dan kebutuhan pelayanan, paroki terus mengembangkan sarana peribadatan dan pelayanan pastoral.

1981 — Berdirinya Paroki Santo Thomas Rasul

Paroki Santo Thomas Rasul merupakan pemekaran dari Paroki Trinitas Cengkareng. Ketika itu, Wilayah Bojong Indah terdiri atas tujuh lingkungan dengan jumlah umat kurang dari 1.000 orang. Atas prakarsa Bapak Petrus Mudjio dan rekan-rekan, muncul gagasan untuk mengembangkan Wilayah Bojong Indah menjadi sebuah paroki.

Surat pendirian Paroki St. Thomas Rasul di Bojong Indah yang ditandatangani Bapa Uskup Leo Soekoto, SJ pada 27 Agustus 1981.

Surat pendirian Paroki St. Thomas Rasul di Bojong Indah yang ditandatangani Bapa Uskup Leo Soekoto, SJ pada 27 Agustus 1981.

Surat pernyataan berdirinya Pengurus Gereja dan Dana Papa R. K. pertama Gereja Santo Thomas Rasul yang ditandatangani Bapa Uskup Leo Soekoto, SJ pada 27 Agustus 1981.

Surat pernyataan berdirinya Pengurus Gereja dan Dana Papa R. K. pertama Gereja Santo Thomas Rasul yang ditandatangani Bapa Uskup Leo Soekoto, SJ pada 27 Agustus 1981.

Pada 27 Agustus 1981, Paroki Santo Thomas Rasul resmi dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Uskup Agung Jakarta, Bapa Uskup Leo Soekoto, SJ, No. 874/3.27.35/81. Bapa Uskup Leo Soekoto, SJ juga menetapkan Santo Thomas Rasul sebagai pelindung paroki.

Pada saat yang sama, secara resmi dibentuk Pengurus Gereja dan Dana Papa Roma Katolik (PGDP RK) Paroki Santo Thomas Rasul dengan ketua Pastor P. John McLaughlin, OMI dan wakil ketua Bapak B. Prasadja. Lihat susunan PGDP dari masa ke masa.

Pada masa awal, Perayaan Ekaristi dilaksanakan di Sekolah Trinitas yang dapat menampung sekitar 150–200 umat. Karena keterbatasan tempat, Misa tambahan kemudian diadakan setiap Sabtu sore di rumah keluarga Bapak Hendra Susanto, Jalan Taman Jeruk II/21. Pelayanan dengan cara ini berlangsung selama kurang lebih dua tahun.

1983–1985 — Membangun Fondasi Paroki

Pada 1983 dibentuk Panitia Pembangunan Gereja (PPG) yang pertama dengan Bapak Theodorus Wirawan sebagai ketua. Masa bakti PPG pertama berakhir pada 1984.

Pada periode ini, paroki menerima sumbangan sebidang tanah seluas kurang lebih 5.800 meter persegi di daerah Klingkit, Bojong Indah, dari Bapak Agustinus Mangkurahardjo.

McLaughlin, OMI dibantu Pastor James, OMI. Masa bakti PPG pertama ini hanya sampai awal tahun 1984 dan berhasil mendapat sumbangan sebidang tanah dari Bapak Agustinus Mangkurahardjo seluas lebih kurang 5.800 meter persegi di Klingkit, Bojong Indah.

PPG pertama.

Pada 20 Mei 1984 dibentuk PPG kedua dengan susunan:

  • Penasihat: Pastor L. B. S. Wiryowardaya, Pr
  • Penasihat: Bapak Agustinus Mangkurahardjo
  • Penasihat: Bapak Brigjen (Purn.) J. Soedjono
  • Ketua: Bapak Andi Suwandi
  • Sekretaris: Bapak Ignatius Aryana
  • Bendahara I: Bapak Kurniawan Lasmono
  • Bendahara II: Bapak Eko Lesmana
  • Seksi Dana: Ibu Agus Setiawan

Uskup Agung Jakarta mendorong agar Paroki Santo Thomas Rasul memiliki pastoran karena seorang pastor tetap akan ditugaskan untuk melayani umat paroki.

Atas usaha PPG II, dibeli sebuah rumah seluas 370 meter persegi di Jalan Kacang Panjang Raya No. 2 dengan harga Rp 23 juta. Rumah tersebut kemudian digunakan sebagai pastoran sekaligus sekretariat. Keuskupan Agung Jakarta memberikan bantuan sebesar Rp 15 juta, sedangkan kebutuhan dana lainnya diusahakan oleh PPG bersama umat.

Pada 7 September 1984, berdasarkan Surat Keuskupan Agung Jakarta No. 1231/3.25.4.35/84, dibentuk PGDP RK II dengan Pastor John O’Doherty, OMI sebagai Ketua.

Pada Februari 1985, pelayanan penggembalaan umat diserahterimakan dari Pastor John O’Doherty, OMI kepada Pastor L. B. S. Wiryowardaya, Pr sebagai Pastor Kepala yang baru.

Pada masa itu, Paroki Santo Thomas Rasul terdiri atas tiga wilayah dengan jumlah umat sekitar 2.050 orang. Perayaan Ekaristi dilaksanakan di beberapa tempat, antara lain Sekolah Trinitas, Sekolah Lamaholot, dan Taman Kota.

Seiring pertumbuhan umat, wilayah pelayanan mulai mengalami pemekaran.

1985–1987 — Mencari Rumah bagi Umat

Pada 1985, Pengurus Dewan Paroki bersama Panitia Pembangunan Gereja mulai merencanakan pembangunan gedung gereja.

Tanah yang sebelumnya diperoleh di Klingkit tidak dapat digunakan untuk pembangunan karena persoalan legalitas tanah, kondisi lingkungan, serta berbagai pertimbangan pastoral dan sosial. Karena itu, paroki mulai mencari lokasi baru.

Bapak Agustinus Mangkurahardjo kemudian mempertemukan Romo Bambang Wiryo, Pr dengan Bapak Budi Brasali dari PT Metropolitan Development. Dari pertemuan tersebut, paroki memperoleh kesempatan membeli tanah seluas 5.680 meter persegi di Jalan Pakis Raya Blok G5 No. 20, lokasi Gereja Santo Thomas Rasul saat ini.

Harga tanah tersebut ketika itu sebesar Rp 100 juta.

Untuk membiayai pembelian tanah, umat mengadakan penjualan kupon berhadiah seharga Rp 5 ribu per kupon. Kupon dijual di berbagai gereja di wilayah Keuskupan Agung Jakarta, bahkan sampai ke Bandung dan Cirebon.

Dari usaha bersama tersebut terkumpul dana sebesar Rp 90 juta, sedangkan kekurangan sebesar Rp 10 juta mendapat bantuan dari Keuskupan Agung Jakarta.

Perjuangan memperoleh tanah ini menjadi salah satu kesaksian penting dalam sejarah paroki. Rumah bagi umat dibangun melalui partisipasi dan pengorbanan bersama.

Pada 18 September 1986, berdasarkan Surat Keuskupan Agung Jakarta No. 1215/3.4.4/86, dibentuk PGDP RK III dengan Pastor L. B. S. Wiryowardaya, Pr sebagai ketua, dan Bapak F. A. Soeripto sebagai wakil ketua.

1987 — Gereja Bedeng

Untuk menyatukan umat agar dapat merayakan Ekaristi bersama di satu tempat, pada 1987 dibangun sebuah gereja bedeng di atas tanah yang telah dibeli.

Bangunan sederhana tersebut awalnya berukuran 18 × 18 meter dan kemudian diperluas menjadi 18 × 30 meter. Pembangunannya dilakukan dengan biaya yang sangat terbatas. Sebagian kayu bahkan berasal dari material bongkaran Universitas Tarumanagara yang diperoleh dengan bantuan Dr. Arry Ramba.

Tampak luar gereja bedeng.

Tampak luar gereja bedeng.

Perayaan Ekaristi di gereja bedeng.

Perayaan Ekaristi di gereja bedeng.

Walaupun sederhana, gereja bedeng mempunyai arti besar. Untuk pertama kalinya umat yang sebelumnya merayakan Ekaristi di beberapa tempat dapat berkumpul sebagai satu komunitas di lokasi yang kelak menjadi pusat kehidupan Paroki Santo Thomas Rasul.

Lokasi bekas gereja bedeng tersebut kini menjadi bagian dari area parkir gereja.

1988–1992 — Pembangunan Gereja Santo Thomas Rasul

Pada 23 Juni 1988, berdasarkan Surat Keuskupan Agung Jakarta No. 976/3.25.4.35/88, diangkat PGDP RK IV dengan Pastor L. B. S. Wiryowardaya, Pr sebagai ketua, dan Bapak F. A. Soeripto sebagai wakilnya.

Pada Oktober 1988 dilakukan peletakan batu pertama pembangunan Gereja Santo Thomas Rasul oleh Bapa Uskup Leo Soekoto, SJ. Pembangunan belum langsung dilaksanakan karena masih menunggu penyelesaian pembangunan Gereja Trinitas. Sambil menanti pembangunan gereja, dibangun Gua Maria Bunda Penebus di bagian belakang kompleks gereja.

Umat mengikuti Misa peletakan batu pertama.

Umat mengikuti Misa peletakan batu pertama.

Bapa Uskup Leo Soekoto, SJ dalam Misa peletakan batu pertama pembangunan Gereja Santo Thomas Rasul, Oktober 1988.

Bapa Uskup Leo Soekoto, SJ dalam Misa peletakan batu pertama pembangunan Gereja Santo Thomas Rasul, Oktober 1988.

Maket gedung Gereja Santo Thomas Rasul.

Maket gedung Gereja Santo Thomas Rasul.

Arsitek Bapak Djohan Gunawan kemudian dipercaya merancang gedung Gereja Santo Thomas Rasul. Proses penyelesaian dan persetujuan desain berlangsung sekitar satu tahun melalui komunikasi dengan pihak Keuskupan.

Pada 1990, pembangunan fisik gereja dimulai. Bapak Djohan Gunawan dan Ibu Irene Gunawan bertindak sebagai arsitek. Perhitungan struktur dilakukan oleh Ibu Santi, sedangkan pengawasan pembangunan dilakukan oleh Bapak Budiono Subekti.

Pekerjaan konstruksi dan fondasi dipercayakan kepada PT Dimensi, sedangkan tahap akhir pembangunan dikerjakan oleh Bapak Busman.

Dalam proses tersebut, Bapa Uskup Leo Soekoto, SJ juga datang meninjau pembangunan dan memberikan pengarahan kepada panitia.

Pembangunan menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam penggalangan dana dan sosialisasi rencana pembangunan kepada umat. Namun melalui doa, kerja keras, dan kebersamaan, proses pembangunan dapat terus berlangsung. Umat juga secara khusus menghayati Novena Hati Kudus Yesus selama sembilan Jumat Pertama berturut-turut, sebagai ungkapan iman dan penyerahan proses pembangunan kepada Tuhan.

Pada April 1992, pembangunan fisik gereja selesai. Gedung gereja memiliki luas sekitar 1.200 meter persegi dan mampu menampung sekitar 1.000 umat.

Perayaan Ekaristi pertama di gereja baru dilaksanakan pada Minggu Palma 1992.

Pada 10 Agustus 1992, berdasarkan Surat Keuskupan Agung Jakarta No. 1127/3.25.4.35/92, dibentuk PGDP RK V dengan Pastor L. B. S. Wiryowardaya, Pr sebagai ketua, dan Bapak Petrus Canisius Mudjio sebagai wakil ketua.

Gereja Santo Thomas Rasul – Bojong Indah diresmikan dan diberkati oleh Bapa Uskup Leo Soekoto, SJ, Uskup Keuskupan Agung Jakarta pada 23 Agustus 1992.

Gereja Santo Thomas Rasul – Bojong Indah diresmikan dan diberkati oleh Bapa Uskup Leo Soekoto, SJ, Uskup Keuskupan Agung Jakarta pada 23 Agustus 1992.

Gedung gereja yang selama bertahun-tahun diperjuangkan akhirnya menjadi rumah bersama bagi umat Paroki Bojong Indah.

Gedung gereja yang selama bertahun-tahun diperjuangkan akhirnya menjadi rumah bersama bagi umat Paroki Bojong Indah.

1989–1998 — Pertumbuhan Umat dan Wilayah

Bersamaan dengan pembangunan gereja, jumlah umat terus bertambah.

Pada 1989 tercatat 3.707 umat yang tersebar dalam enam wilayah.

Pada 1990 ditambahkan dua wilayah baru yang meliputi Kembangan, sebagian Puri Indah, dan Puri Kencana. Kedua wilayah baru tersebut sebelumnya merupakan bagian dari Paroki Maria Bunda Karmel, Tomang. Penambahan wilayah ditandai dengan Perayaan Ekaristi di Aula SLB Pangudi Luhur yang dipimpin oleh Pastor Kutzruiter, O.Carm.

Wilayah paroki kemudian bertambah lagi dengan kawasan Taman Permata Buana dan Puri Media.

Untuk mempermudah akses umat dari kawasan tersebut menuju gereja, Pengurus Dewan Paroki membeli sebidang tanah untuk pembangunan jalan penghubung dari tanggul menuju Perumahan Carina Sayang.

Jumlah umat meningkat dari 5.272 orang pada 1991 menjadi 5.753 orang pada 1992.

Pada 6 September 1992, Pastor Hadi Suryono, Pr, yang baru ditahbiskan menjadi imam, mulai membantu pelayanan di Paroki Santo Thomas Rasul. Ia memberi perhatian khusus pada pengembangan iman anak-anak dan kaum muda, sementara Romo Bambang Wiryo, Pr memberikan perhatian pada pelayanan Misa lingkungan.

Pada 15 Agustus 1994, Pastor Th. Aq. M. Rochadi, Pr menggantikan Romo Bambang Wiryo, Pr sebagai Pastor Kepala sekaligus Ketua Pengurus Dewan Paroki. Pada saat itu jumlah umat tercatat sebanyak 6.685 orang.

Pada tahun yang sama, Pastor Yoseph Wiyanto Hardjopranoto, Pr mulai berkarya di Paroki Bojong Indah.

Pertumbuhan umat terus mendorong pemekaran wilayah dan lingkungan serta peningkatan pelayanan pastoral.

1996–2001 — Pertumbuhan dan Persiapan Pemekaran

Pada 12 Maret 1996, berdasarkan Surat Keuskupan Agung Jakarta No. 0324/3.25.4.35/96, dibentuk PGDP RK VI dengan ketua Pastor Thomas Aquino Murdjanto Rochadi Widagdo, Pr dan wakilnya Bapak Fransiskus Xaverius Soemardjo.

Pada 24 Desember 1996, dibentuk Panitia Pembangunan Gereja yang diketuai oleh Bapak Benny Tani. Panitia yang dirintis oleh Bapak Yoppy bersama rekan-rekan ini mempersiapkan pemekaran Paroki Santo Thomas Rasul.

Rencana paroki baru mencakup wilayah Semanan dan Kresek, dua wilayah di Kosambi, serta sebagian umat dari paroki-paroki di sekitarnya.

Pada Agustus 1997, pemekaran wilayah membuat Paroki Santo Thomas Rasul berkembang menjadi 11 wilayah dengan 64 lingkungan.

Pada September 1997, Romo Hadi Suryono, Pr mendapat tugas baru di Paroki Jatibening dan digantikan oleh Romo Eko Susanto, Pr. Pada Oktober 1998, pelayanan Romo Eko Susanto, Pr dilanjutkan oleh Pastor Martinus Hadiwijoyo, Pr.

Pada Oktober 1998, jumlah umat pada masa itu telah mencapai 8.113 orang, sedangkan gedung gereja hanya mampu menampung sekitar 1.000 umat dalam satu Perayaan Ekaristi. Kondisi ini semakin menegaskan kebutuhan akan pemekaran paroki.

Pada 26 November 1998, berdasarkan Surat Keuskupan Agung Jakarta No. 1968/3.25.4.35/98, diangkat PGDP RK VII dengan Pastor Th. Aq. M. Rochadi Widagdo, Pr dan Bapak B. Budiono Subekti sebagai ketua dan wakil ketua.

Pada 1 September 1999, Romo M. Hadiwijoyo, Pr menjadi Pastor Kepala sekaligus Ketua Pengurus Dewan Paroki. Bapak Budiono Subekti menjabat sebagai Wakil Ketua. Pada tanggal yang sama, Pastor C. J. Harry Liong, Pr mulai membantu pelayanan di Paroki Santo Thomas Rasul.

Pada 19 Januari 2001, Pastor Ludo Reekmans, CICM mulai berkarya di Paroki Santo Thomas Rasul. Pada 1 September 2001, Romo Ludo kemudian menjadi Pastor Kepala sekaligus Ketua Pengurus Dewan Paroki. Pada periode yang sama, Pastor Sylvester Nong, Pr juga mulai berkarya di Paroki Santo Thomas Rasul.

2001–2003 — Pertumbuhan dan Pembenahan

Pada 30 Oktober 2001, berdasarkan Surat Keuskupan Agung Jakarta No. 2056/3.25.4.35/2001, dibentuk PGDP RK VIII dengan ketua Pastor Ludo Reekmans, CICM dan wakil ketua Bapak B. Budiono Subekti.

Periode ini ditandai oleh pertumbuhan umat yang sangat pesat sekaligus pembenahan tata pelayanan paroki. Komunikasi antara pastor, Dewan Paroki, wilayah, dan lingkungan diperkuat. Administrasi, pengelolaan keuangan, program kerja, dan mekanisme pertanggungjawaban mulai ditata secara lebih sistematis.

Data statistik akhir tahun paroki mencatat:

  • 1998: 8.601 umat
  • 1999: 9.221 umat
  • 2000: 9.682 umat
  • 2001: 12.657 umat
  • 2002: 13.196 umat.

Dalam kurun 1998–2002, jumlah umat bertambah lebih dari empat ribu orang, sehingga kebutuhan penataan wilayah dan pelayanan semakin mendesak.

Pada masa kepengurusan Dewan Paroki 2001–2004, wilayah pelayanan berkembang dari 16 menjadi 22 wilayah dengan 103 lingkungan. Dari jumlah tersebut, 13 wilayah dengan 66 lingkungan berada dalam lingkup Bojong Indah, sedangkan 9 wilayah dengan 37 lingkungan berada di kawasan yang dipersiapkan menjadi paroki baru di Kosambi.

Pada periode ini pula, setiap wilayah mulai menggunakan nama santo atau santa pelindung sebagai identitas, tidak lagi semata-mata berdasarkan nomor wilayah.

2003 — Renovasi Gereja Santo Thomas Rasul

Setelah sekitar satu dasawarsa digunakan sejak Perayaan Ekaristi pertama pada Minggu Palma 1992, gedung Gereja Santo Thomas Rasul mulai membutuhkan berbagai perbaikan. Dalam rapat Dewan Paroki Pleno pada akhir 2001, umat menyampaikan sejumlah keluhan mengenai kondisi fisik gereja, antara lain kebocoran, pencahayaan di sekitar altar yang kurang memadai, sirkulasi udara, serta berbagai persoalan teknis lainnya.

Sejak awal 2002, Dewan Paroki mulai merencanakan renovasi. Pada 12 Agustus 2003, dibentuk panitia kecil renovasi Gereja Santo Thomas Rasul yang dipimpin langsung oleh Romo Ludo dengan Bapak Yus Hendra sebagai Koordinator Tim Desain, Sipil, dan Mekanikal–Elektrikal.

Renovasi mencakup altar, penerangan, panel listrik, dan pengadaan genset, kemudian dilanjutkan dengan renovasi pastoran, gedung serba guna, serta area sekitar Gua Maria.

Pembaruan altar tetap mempertahankan karakter struktural bangunan gereja. Bentuk gotik dipilih dan dikembangkan sebagai unsur utama interior, termasuk lima bentuk gotik pada altar yang memiliki makna simbolis. Panti imam juga diperluas untuk menunjang semakin banyaknya kegiatan liturgi.

Seluruh kebutuhan renovasi dipenuhi melalui partisipasi umat sebagai wujud kebersamaan dan kemandirian Paroki Santo Thomas Rasul.

Altar gereja bedeng sebelum tahun 1992.

Altar gereja bedeng sebelum tahun 1992.

Altar Gereja Santo Thomas Rasul setelah pembangunan selesai tahun 1992.

Altar Gereja Santo Thomas Rasul setelah pembangunan selesai tahun 1992.

Altar Gereja Santo Thomas Rasul saat ini setelah renovasi tahun 2003.

Altar Gereja Santo Thomas Rasul saat ini setelah renovasi tahun 2003.

2004 — Balai Pengobatan dan PGDP RK IX

Pada 18 Juli 2004, Paroki Santo Thomas Rasul memulai Balai Pengobatan Mingguan Sathora sebagai bagian dari pelayanan sosial dan kesehatan kepada umat serta masyarakat sekitar, terutama warga yang kurang mampu. Pelayanan yang semula berkembang dengan sarana terbatas ini kemudian menjadi Balai Kesehatan Sathora dan selanjutnya Klinik Pratama Sathora, didukung oleh para dokter, dokter gigi, perawat, dan relawan.

Pada 5 November 2004, berdasarkan Surat Keuskupan Agung Jakarta No. 0437/3.25.4.35/2004, diangkat PGDP RK IX dengan Pastor Ludo Reekmans, CICM sebagai ketua.

Pada 10 November 2006, susunan PGDP RK IX mengalami perubahan berdasarkan Surat Keuskupan Agung Jakarta No. 459/3.25.4.35/2006.

1996–2005 — Perjalanan Panjang Menuju Berdirinya Paroki Santo Matias Rasul

Pertumbuhan umat di kawasan Kosambi dan sekitarnya telah lama mendorong kebutuhan akan komunitas paroki baru.

Persiapan pemekaran berlangsung melalui proses yang panjang: pembentukan panitia, pencarian lahan, pengurusan administrasi dan perizinan, pembangunan tempat ibadat sementara, serta pembentukan komunitas umat.

Perjalanan tersebut akhirnya mencapai tonggak penting pada 8 Desember 2005, bertepatan dengan Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda. Pada hari itu, Stasi Santo Matias Rasul resmi menjadi Paroki Santo Matias Rasul berdasarkan Surat Keuskupan Agung Jakarta No. 423/3.25.2/2005. Pastor Jacobus Tarigan, Pr ditetapkan sebagai Ketua Umum PGDP RK I.

Pemekaran ini merupakan bagian penting dari sejarah Paroki Santo Thomas Rasul. Pertumbuhan umat tidak hanya dijawab dengan memperbesar komunitas yang sudah ada, tetapi juga dengan melahirkan komunitas paroki baru agar pelayanan pastoral semakin dekat dengan umat.

Pembangunan gereja berlangsung selama sekitar dua tahun. Pada 8 Agustus 2008, Bapa Uskup Julius Kardinal Darmaatmadja, SJ meresmikan dan memberkati Gereja Santo Matias Rasul.

2005–2008 — Penataan Kembali Wilayah

Setelah berdirinya Paroki Santo Matias Rasul, wilayah dan lingkungan Paroki Santo Thomas Rasul kembali ditata sesuai kebutuhan pastoral.

Pemekaran sejumlah lingkungan terus berlangsung dan kemudian diikuti dengan penataan wilayah.

Pada 1 Januari 2008, Paroki Santo Thomas Rasul tercatat memiliki 16 wilayah dengan 76 lingkungan.

Seiring pertumbuhan umat, pelayanan liturgi juga terus disesuaikan. Sejak awal 2008, jumlah Perayaan Ekaristi akhir pekan ditambah menjadi enam kali agar pelayanan kepada umat dapat berlangsung dengan lebih baik.

2008 — PGDP RK X

Pada 26 April 2008, berdasarkan Surat Keuskupan Agung Jakarta No. 161/3.25.4.35/2008, dibentuk PGDP RK X dengan ketua Pastor Gilbert Keirsbilck, CICM, dan wakilnya Bapak Stefanus Yosef Gana Aditya.

2011 — Peresmian Gedung Karya Pastoral

Pada 10 Mei 2011, berdasarkan Surat Keuskupan Agung Jakarta No. 192/3.14.4.5/2011, dibentuk PGDP RK XI dengan  Pastor Gilbert Keirsbilck, CICM sebagai ketua umum, Pastor Silvester Hari Pamungkas, Pr sebagai ketua I, dan Pastor Romanus Rofinus Rasa, CICM sebagai ketua II.

Pada 11 September 2011, bertepatan dengan rangkaian perayaan HUT ke-30 Paroki Santo Thomas Rasul, Gedung Karya Pastoral (GKP) Sathora diresmikan dan diberkati oleh Bapa Uskup Ignatius Suharyo. Gedung empat lantai ini dibangun menggantikan gedung serba guna yang lama sebagai sarana pendukung berbagai kegiatan dan pelayanan pastoral paroki.

2014–2015 — PGDP RK XII

Pada 8 Mei 2014, berdasarkan Surat Keuskupan Agung Jakarta No. 206/3.14.4.5/2014, dibentuk PGDP RK XII dengan Pastor Gilbert Keirsbilck, CICM sebagai ketua umum, Pastor F. X. Suherman, Pr sebagai ketua I, dan Pastor Reynaldo Antoni Haryanto, Pr sebagai ketua II.

Dalam masa kepengurusan ini, pada 16 Juli 2015, Pastor Gilbert Keirsbilck, CICM wafat dalam usia 74 tahun.

2016 — HUT ke-35

Pada 2016, Paroki Santo Thomas Rasul merayakan 35 tahun berdirinya paroki. Rangkaian perayaan berlangsung sejak 12 Juni hingga 27 Agustus 2016 melalui berbagai kegiatan rohani, sosial, dan kebersamaan, antara lain donor darah, Sathora Fun Run, Misa Syukur, pesta umat, pesta rakyat, penjualan sembako murah, seminar, dan OMK Life Night. Puncak perayaan berlangsung pada 20 Agustus 2016 dengan Misa Syukur konselebrasi yang dipimpin oleh Bapa Uskup Ignatius Suharyo bersama para imam yang pernah berkarya di Paroki Santo Thomas Rasul. Perayaan mengangkat tema “Persaudaraan Sejati antar Umat Beragama dalam Mengamalkan Pancasila.”

Pada masa ini jumlah umat terus bertambah. Data Juni 2016 mencatat sekitar 11.432 umat. Keterbatasan daya tampung Gereja Santo Thomas Rasul kemudian mendorong penggunaan Sekolah Notre Dame Puri Indah sebagai tempat tambahan untuk penyelenggaraan Perayaan Ekaristi pada hari Sabtu dan Minggu, sehingga pelayanan kepada umat dapat tetap berlangsung dengan lebih baik.

2017–2020 — PGDP RK XIII dan BMPA

Pada 9 Mei 2017, berdasarkan Surat Keuskupan Agung Jakarta No. 165/3.14.4.5/2017, diangkat PGDP RK XIII dengan Pastor F. X. Suherman, Pr sebagai ketua umum, dan Pastor Paulus Dwi Hardianto, Pr sebagai ketua I.

Sejak 1 Juli 2018, Pastor Yosef Purboyo Diaz, Pr mulai berkarya di Paroki Bojong Indah.

Pada 2 September 2019, susunan pengurus PGDP RK XIII mengalami perubahan berdasarkan Surat Keuskupan Agung Jakarta No. 522/3.14.4.5/2017 (nomor surat sebagaimana tercantum dalam dokumen asli).

Pada 7 September 2019, berdasarkan Surat Keuskupan Agung Jakarta No. 533/3.14.4.75/2019, diangkat PGDP RK Gereja Bunda Maria Penolong Abadi (BMPA) yang pertama dengan susunan sebagai berikut:

  • Ketua Umum: Pastor F. X. Suherman, Pr
  • Ketua I: Pastor Yosef Purboyo Diaz, Pr
  • Wakil Ketua I: Paulus Ridwan Dharmali
  • Wakil Ketua II: Sabinus B. Suardi
  • Sekretaris I: Ignatius Salim Sutojo
  • Sekretaris II: Laurensius Kam Lim Hau
  • Bendahara I: Andreas Suryandi
  • Bendahara II: Rosa Maria Hetty Heriani
  • Anggota: Ansolmus Arito Maslim; Andrijas Kainama; Francisca Endang Kusumaningsih, dr.; Aurelia Mirawati; Gabriel Mardi Bunawan, dr.; Antonius Bambang Dwi Sutiono; Felix Agung Waluyo; dan Anwar Surya.

2020 — Banjir dan Pandemi

Pada 1 Januari 2020, banjir besar melanda wilayah Bojong Indah dan sekitarnya. Air juga menggenangi halaman Gereja Santo Thomas Rasul. Paroki membuka kompleks gereja sebagai tempat pengungsian bagi umat dan warga yang rumahnya tidak dapat ditempati. Tim Penanggulangan Bencana Paroki bersama berbagai unsur paroki melakukan evakuasi menggunakan perahu karet, termasuk mengevakuasi para lansia yang sakit. Sekitar 350 orang sempat ditampung di kompleks gereja, antara lain di GKP lantai 2, sedangkan lansia yang membutuhkan perhatian khusus ditempatkan di pastoran.

Selama masa pengungsian, paroki bersama para relawan dan donatur menyediakan makanan dan berbagai kebutuhan bagi korban banjir. Setelah air surut, bantuan berupa perlengkapan rumah tangga juga diberikan kepada keluarga yang terdampak sebelum mereka kembali ke rumah masing-masing.

Akibat pandemi COVID-19, masa bakti Dewan Paroki Pleno 2017–2020 yang semula berakhir pada Mei 2020 diperpanjang hingga pemberitahuan lebih lanjut berdasarkan Surat Dewan Paroki No. 099/DPH-Sath/IV-2020 tanggal 8 April 2020. Pelantikan kepengurusan baru yang semula direncanakan pada 10 Mei 2020 pun ditunda.

Pada 30 Juli 2020, berdasarkan Surat Keuskupan Agung Jakarta No. 378/3.14.4.5/2020, dibentuk PGDP RK XIV dengan Pastor F. X. Suherman, Pr sebagai ketua umum, dan Pastor Yosef Purboyo Diaz, Pr sebagai ketua I.

Sejak 14 Agustus 2020, Pastor Ambrosius Lolong, Pr mulai berkarya di Paroki Bojong Indah.

Pada 1 Februari 2021, Pastor Yosef Purboyo Diaz, Pr mengakhiri pelayanannya di Paroki Bojong Indah dan berpindah tugas ke Paroki Kutabumi – Gereja Santo Gregorius Agung.

Pada 2 Februari 2021, Pastor Martinus Hadiwijoyo, Pr mengakhiri pelayanannya di Paroki Bojong Indah dan berpindah tempat tinggal ke Pastoran Samadi.

Sejak 8 Mei 2021, Pastor Albertus Bondika Widyaputra, Pr mulai berkarya di Paroki Bojong Indah.

Pada 8 Mei 2021, Pastor Ambrosius Lolong, Pr mengakhiri pelayanannya di Paroki Bojong Indah.

Pada 11 Juli 2021, Pastor F. X. Suherman, Pr wafat dalam usia 51 tahun.

Sejak 1 Agustus 2021, Pastor H. Sridanto Aribowo, Pr mulai berkarya sebagai Pastor Kepala dan Ketua Umum PGDP RK di Paroki Bojong Indah.

Pada 21 Desember 2021, susunan pengurus PGDP RK XIV mengalami perubahan berdasarkan Surat Keuskupan Agung Jakarta No. 748/3.14.4.5/2021 dengan Pastor H. Sridanto Aribowo N., Pr sebagai ketua umum, dan Pastor Albertus Bondika Widyaputra, Pr sebagai ketua I.

2020–2022 — Pandemi COVID-19

Pandemi COVID-19 membawa perubahan besar dalam kehidupan menggereja di Paroki Bojong Indah. Mulai 20 Maret 2020, Misa Harian dan Misa Mingguan serta berbagai kegiatan kegerejaan yang menghadirkan umat ditiadakan. Pelayanan dan kehidupan menggereja kemudian beradaptasi melalui berbagai sarana daring.

Pada 1 April 2020, Paroki Bojong Indah membentuk gerakan Sathora Mendampingi sebagai pusat pendampingan bagi umat dan keluarga yang terdampak pandemi. Pelayanan ini mencakup pendampingan kesehatan, psikologis, rohani, serta bantuan kebutuhan sehari-hari.

Di tengah keterbatasan tersebut, muncul inisiatif untuk menghadirkan Perayaan Ekaristi secara daring. Gagasan yang dirintis oleh Pastor Yosef Purboyo Diaz, Pr bersama Frater Patrick S. Widodo kemudian diwujudkan melalui YouTube Sathora. Misa Minggu Palma pada 5 April 2020 menjadi awal pelayanan Misa secara live streaming, disusul Misa Hari Raya Paskah pada 12 April 2020. Pengalaman ini menjadi awal berkembangnya pelayanan live streaming di paroki dan mendorong pembentukan Tim Audio Visual di bawah Seksi Komsos.

Pada 9 Juni 2020, dibentuk Tim Gugus Kendali Paroki (TGKP) untuk mempersiapkan dan mengawal kembali berlangsungnya pelayanan tatap muka sesuai protokol kesehatan. Tim Admin Belarasa Paroki (TABP) kemudian dibentuk pada Juli 2020 untuk mendukung pendaftaran dan pendataan umat dalam penyelenggaraan Misa tatap muka.

Misa Natal 2020 menjadi Misa Hari Raya pertama yang kembali dirayakan dengan kehadiran umat sejak pandemi. Paroki menyelenggarakan dua Misa Malam Natal dan dua Misa Hari Raya Natal dengan pembatasan jumlah umat dan penerapan protokol kesehatan. Misa Harian tatap muka kemudian mulai dilaksanakan secara rutin pada 31 Desember 2020.

Pada Paskah 2021, rangkaian Trihari Suci kembali dapat dirayakan bersama umat dengan kuota terbatas, pendaftaran melalui Belarasa, serta protokol kesehatan yang ketat. Pelayanan tatap muka terus berkembang, meskipun sempat beberapa kali kembali dihentikan mengikuti perkembangan pandemi.

Dalam bidang kemanusiaan, paroki memberikan berbagai bentuk bantuan kepada umat dan masyarakat yang terdampak pandemi serta bekerja sama dengan berbagai pihak dalam mendukung program vaksinasi COVID-19.

Memasuki 2022, kehidupan paroki berangsur menuju keadaan normal. Pada Paskah 2022, kapasitas Misa telah ditingkatkan hingga 70 persen dan ruang GKP mulai digunakan untuk menambah kapasitas umat. Penggunaan Belarasa untuk pendaftaran Misa Minggu berakhir pada Juni 2022, menjadi salah satu penanda pulihnya kehidupan menggereja di paroki.

2022 — Pemberkatan Patung Santo Thomas Rasul

Pada Minggu, 3 Juli 2022, Patung Santo Thomas Rasul di kompleks Gereja Santo Thomas Rasul diberkati dalam Misa konselebrasi yang dipimpin oleh Bapa Uskup Ignatius Suharyo. Perayaan tersebut juga dihadiri sejumlah imam yang pernah berkarya di Paroki Santo Thomas Rasul, antara lain Romo Fe, Romo Harry Liong, dan Romo Diaz.

2023–2025 — PGDP RK XV

Berdasarkan Surat Keuskupan Agung Jakarta No. 146/3.16.56/2023 tanggal 27 Januari 2023, Dominikus Anwar Surya dibebastugaskan terhitung mulai 27 Januari 2023. Selanjutnya, ia menjalankan tugas sebagai Wakil Ketua Umum Panitia Pembangunan Gereja Bunda Maria Penolong Abadi.

Sejak 1 Juni 2023, Pastor Benediktus Ari Darmawan, Pr mulai berkarya di Paroki Bojong Indah.

Pada 20 Juli 2023, berdasarkan Surat Keuskupan Agung Jakarta No. 502/3.14.4.5/2023, PGDP RK XV diangkat untuk masa bakti tiga tahun yang berlaku mulai 30 Juli 2023 dengan Pastor H. Sridanto Aribowo N., Pr sebagai ketua umum, Pastor Benediktus Ari Darmawan, Pr sebagai ketua I, dan Pastor Albertus Bondika Widyaputra, Pr sebagai ketua II.

Pada akhir 2023, susunan PGDP RK XV mengalami perubahan sehubungan dengan pergantian pastor rekan. Berdasarkan Surat Keuskupan Agung Jakarta No. 808/3.14.4.5/2023, Pastor Ludowikus Andri Novian, Pr diangkat sebagai ketua II. 

Pada 24 Oktober 2024, susunan pengurus PGDP RK XV mengalami perubahan berdasarkan Surat Keuskupan Agung Jakarta No. 691/3.14.4.5/2024.

Sejak 1 Januari 2025, Pastor Yoseph Mikael Yuddha Adrian, Pr mulai berkarya di Paroki Bojong Indah.

Pada 15 Januari 2025, Pastor Benediktus Ari Darmawan, Pr mengakhiri pelayanannya di Paroki Bojong Indah dan berpindah tugas ke Paroki Pulomas – Gereja Santo Bonaventura.

Pada 8 April 2025, susunan pengurus PGDP RK XV mengalami perubahan berdasarkan Surat Keuskupan Agung Jakarta No. 232/3.14.4.5/2025 dengan Pastor H. Sridanto Aribowo N., Pr sebagai ketua umum, dan Pastor Y. M. Yuddha Adrian Vitra, Pr sebagai ketua I. 

Sejak 15 Agustus 2025, Pastor Nemesius Pradipta, Pr mulai berkarya di Paroki Bojong Indah.

2026 — PGDP RK XVI

Pada 1 Januari 2026, Pastor H. Sridanto Aribowo, Pr dibebastugaskan sebagai Pastor Kepala dan Ketua Umum PGDP RK Paroki Bojong Indah.

Pada 15 Januari 2026, Pastor Yoseph Mikael Yuddha Adrian, Pr mengakhiri pelayanannya di Paroki Bojong Indah dan berpindah tugas ke Paroki Kutabumi – Gereja Santo Gregorius Agung.

Sejak 15 Januari 2026, Pastor Antonius Suhardi Antara, Pr mulai berkarya sebagai Pastor Kepala dan Ketua Umum PGDP RK Paroki Bojong Indah.

Pada 18 Februari 2026, susunan pengurus PGDP RK XV mengalami perubahan berdasarkan Surat Keuskupan Agung Jakarta No. 120/3.14.4.5/2026 dengan Pastor Antonius Suhardi Antara, Pr sebagai ketua umum, dan Pastor Nemesius Pradipta, Pr sebagai ketua I. 

Pada 17 Juni 2026, berdasarkan Surat Keuskupan Agung Jakarta No. 337/3.14.4.5/2026, dibentuk PGDP RK XVI dengan Pastor Antonius Suhardi Antara, Pr sebagai ketua umum dan Pastor Nemesius Pradipta, Pr sebagai ketua I.

Warisan dan Perjalanan yang Terus Berlanjut

Sejarah Paroki Bojong Indah tidak hanya berbicara tentang berdirinya sebuah gedung gereja.

Gereja Santo Thomas Rasul yang berdiri hari ini merupakan buah perjalanan panjang para pastor, pengurus paroki, panitia pembangunan, para perintis, keluarga, kaum muda, serta seluruh umat yang memberikan waktu, tenaga, pikiran, doa, dan dukungan bagi kehidupan paroki.

Dari Perayaan Ekaristi di sekolah dan rumah umat, gereja bedeng yang sederhana, perjuangan memperoleh tanah, penjualan kupon untuk membiayai pembelian lahan, pembangunan dan pemberkatan gereja, pertumbuhan wilayah dan lingkungan, pembenahan pelayanan, hingga lahirnya Paroki Santo Matias Rasul, semuanya menjadi bagian dari satu perjalanan iman bersama.

Nama-nama yang tercatat dalam sejarah ini mewakili begitu banyak umat yang telah mengambil bagian dalam membangun Paroki Bojong Indah. Sebagian tercatat dalam dokumen, sementara banyak lainnya mungkin tidak lagi dapat disebutkan satu per satu. Namun karya, doa, dan pelayanan mereka tetap menjadi bagian dari warisan paroki.

Pembangunan Gereja tidak berhenti pada pembangunan fisik semata. Gereja pertama-tama adalah persekutuan umat Allah yang dipanggil untuk terus bertumbuh dalam iman, membangun persaudaraan, melayani dalam kasih, dan menjadi saksi Kristus di tengah masyarakat.

Warisan para perintis menjadi panggilan bagi generasi berikutnya untuk menjaga apa yang telah dibangun, terus melakukan pembaruan, membaca kebutuhan zaman, dan menghadirkan Gereja sebagai rumah bagi setiap orang.

Sejarah ini bukan hanya tentang apa yang telah dibangun, tetapi tentang iman yang diwariskan dan perutusan yang terus dilanjutkan.

Nostalgia tokoh Gereja Santo Thomas Rasul bersama Romo Gilbert dan Romo Herman.

Nostalgia tokoh Gereja Santo Thomas Rasul bersama Romo Gilbert dan Romo Herman.

Arsip Sejarah Paroki

Halaman ini menyajikan perjalanan Paroki Bojong Indah secara ringkas dan kronologis. Dokumentasi yang lebih lengkap dapat dibaca dalam arsip berikut:

  1. Sejarah Perjalanan Paroki Santo Thomas Rasul (PDF)
    Dokumentasi perjalanan Paroki Santo Thomas Rasul yang memuat sejarah awal paroki, perkembangan umat, kepengurusan, pembangunan dan renovasi gereja, serta perkembangan wilayah dan lingkungan.
  2. Jejak Langkah Menuju 30 Tahun (PDF)
    Dokumentasi perjalanan Paroki Santo Thomas Rasul menuju tiga dasawarsa berdirinya paroki, yang merekam perkembangan kehidupan dan pelayanan umat dari masa ke masa.
  3. Jejak Awal Gereja St. Thomas Rasul (PDF)
    Artikel dalam MeRasul, Edisi 10, 2015, yang mengulas perjalanan awal Gereja Santo Thomas Rasul, mulai dari komunitas umat hingga pembangunan gereja.