Santo Thomas Rasul, Pelindung Paroki Bojong Indah

Santo Thomas Rasul adalah salah seorang dari kedua belas rasul Yesus. Dalam Injil Yohanes, ia disebut juga Didimus, yang berarti “kembar”. Ia sering dikenang sebagai murid yang sempat meragukan kabar kebangkitan Yesus. Namun, kisah-kisah dalam Injil memperlihatkan sosok Thomas secara lebih utuh: seorang murid yang berani mengikuti Yesus, jujur dalam pergumulannya, berani bertanya, dan sungguh mencari kebenaran.

Perjalanan imannya membawa Thomas dari pencarian dan keraguan menuju perjumpaan pribadi dengan Kristus yang bangkit. Dari perjumpaan itulah lahir salah satu pengakuan iman yang paling kuat dalam Injil:

“Ya Tuhanku dan Allahku!”
(Yohanes 20:28)

Perjalanan iman Santo Thomas inilah yang menjadi inspirasi bagi umat Paroki Bojong Indah untuk terus mencari kebenaran, bertumbuh dalam kerendahan hati, dan berani menjadi saksi Kristus.

Murid yang Berani Mengikuti

Keberanian dan kesetiaan Thomas tampak ketika Yesus memutuskan kembali ke Yudea setelah menerima kabar tentang Lazarus. Para murid menyadari bahwa perjalanan itu mengandung bahaya bagi Yesus. Namun Thomas berkata kepada murid-murid yang lain:

“Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia.” (Yohanes 11:16)

Perkataan ini memperlihat sisi Thomas yang kadang terlupakan. Di balik segala pertanyaan dan keraguannya, ia adalah seorang murid yang memiliki keberanian untuk tetap mengikuti Yesus, bahkan ketika perjalanan itu mengandung risiko.

Bagi Thomas, mengikuti Kristus bukan hanya soal memahami, tetapi juga soal kesediaan untuk berjalan bersama-Nya.

Murid yang Berani Bertanya

Pada Perjamuan Terakhir, ketika Yesus berbicara kepada para murid tentang kepergian-Nya, Thomas dengan terus terang mengakui bahwa ia belum memahami apa yang dimaksud oleh Yesus:

“Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” (Yohanes 14:5)

Thomas tidak menyembunyikan ketidakmengertiannya. Ia memilih untuk bertanya dan mencari jawaban.

Pertanyaan Thomas kemudian membuka jalan bagi salah satu pernyataan Yesus yang paling dikenal:

“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” (Yohanes 14:6)

Dalam diri Thomas, kita melihat bahwa iman tidak berarti berhenti bertanya. Pertanyaan yang lahir dari kerinduan akan kebenaran justru dapat membawa seseorang kepada pengenalan yang semakin mendalam akan Kristus.

Dari Keraguan Menuju Pengakuan Iman

Setelah kebangkitan Yesus, Thomas tidak berada bersama para murid ketika Yesus menampakkan diri kepada mereka. Ketika para murid berkata, “Kami telah melihat Tuhan!”, Thomas belum dapat menerima kesaksian itu begitu saja. Ia ingin mengalami sendiri perjumpaan dengan Kristus yang bangkit.

Delapan hari kemudian, Yesus kembali hadir di tengah para murid dan Thomas berada bersama mereka. Yesus menyapa Thomas dan mengundangnya untuk melihat tanda luka-Nya.

Dalam perjumpaan itu, pencarian Thomas menemukan jawabannya. Keraguannya berubah menjadi pengakuan iman yang mendalam:

“Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yohanes 20:28)

Thomas tidak berhenti pada keraguan. Ia terbuka terhadap perjumpaan, menerima kebenaran yang dinyatakan kepadanya, dan dengan rendah hati mengakui siapa Yesus sesungguhnya.

Yesus kemudian berkata kepadanya:

“Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Yohanes 20:29)

Perjalanan Thomas menunjukkan bahwa keraguan tidak harus menjadi akhir dari iman. Ketika dijalani dengan keterbukaan dan kerendahan hati, pencarian akan kebenaran dapat membawa seseorang kepada perjumpaan yang semakin mendalam dengan Tuhan.

Rasul dan Saksi Kristus

Setelah kebangkitan dan kenaikan Yesus, Thomas bersama para rasul menerima perutusan untuk mewartakan Injil.

Menurut tradisi Gereja yang telah hidup selama berabad-abad, Santo Thomas membawa kabar Injil ke Timur hingga India. Tradisi umat Kristiani di India, khususnya komunitas yang dikenal sebagai Kristen Santo Thomas, menghubungkan asal-usul mereka dengan karya pewartaan Rasul Thomas.

Tradisi juga mengenang bahwa Thomas mengakhiri hidupnya sebagai martir karena kesetiaannya dalam mewartakan Kristus.

Dengan demikian, perjalanan Thomas tidak berhenti pada pengakuan “Ya Tuhanku dan Allahku!” Iman yang lahir dari perjumpaannya dengan Kristus menjadi iman yang diwartakan dan diwujudkan melalui seluruh hidupnya.

Thomas yang dahulu mencari kepastian akhirnya menjadi seorang rasul yang pergi membawa kabar keselamatan kepada orang lain.

Teladan bagi Paroki Bojong Indah

Sebagai pelindung Paroki Bojong Indah, Santo Thomas Rasul mengajak umat untuk meneladani perjalanan imannya: berani mencari kebenaran, rendah hati menerima kebenaran yang ditemukan dalam Kristus, dan setia mewartakannya melalui kehidupan.

Semangat Santo Thomas Rasul dirangkum dalam tiga nilai yang menjadi inspirasi kehidupan dan pelayanan Paroki Bojong Indah:

Iman yang Mencari Kebenaran

Seperti Thomas yang berani bertanya dan mencari kepastian, umat dipanggil untuk terus memperdalam iman serta mencari kebenaran dengan hati yang terbuka.

Kerendahan Hati

Seperti Thomas yang akhirnya membuka diri dalam perjumpaan dengan Kristus dan mengakui, “Ya Tuhanku dan Allahku!”, umat dipanggil untuk berani mendengarkan, menerima masukan dan koreksi, terus belajar, serta terbuka terhadap evaluasi.

Komitmen untuk Bersaksi

Seperti Thomas yang menurut tradisi membawa Injil hingga ke India, iman tidak berhenti pada pengalaman pribadi. Setiap umat dipanggil untuk menjadi saksi Kristus melalui kehidupan, pelayanan, karya, dan kehadiran nyata di tengah Gereja dan masyarakat.

Mencari Kebenaran → Berjumpa dengan Kristus → Menerima dengan Rendah Hati → Diutus untuk Bersaksi.

Semangat itulah yang terus menginspirasi Paroki Bojong Indah untuk menjadi komunitas umat yang berakar dalam Kristus, bertumbuh dalam iman, melayani dalam kasih, dan berani bersaksi di tengah dunia.

Selanjutnya: Makna Logo Paroki.