“KELUARLAH dari gereja. Pergilah ke tempat-tempat  jauh, di antara kelompok masyarakat yang terpinggirkan untuk menemukan kembali imanmu.”  Demikian Pesan Paus Fransiskus dalam Misa Memperingati Hari Kaum Muda Dunia (Juli, 2013).

Ternyata, pesan Sri Paus tersebut sudah dilaksanakan sejak 49 tahun yang lalu oleh Andrea Riccardi, seorang  pemuda Italia yang  waktu itu belum genap berusia 20 tahun.

Dari bacaan Injil yang dibacanya, Andrea memahami bahwa ia  tidak akan bisa melaksanakan pesan Injil apabila ia  tidak mendekatkan diri pada orang-orang miskin, karena Injil adalah Kabar Gembira yang harus diwartakan kepada orang-orang yang menderita. Pengertian miskin tidak berarti hanya  miskin harta, melainkan juga miskin cinta kasih dan perhatian.

Pada tahun 1968 Andrea mengajak teman-temannya mendirikan Komunitas Sant’Egidio.  Tujuannya adalah melayani dan  menjalin persahabatan dengan orang-orang yang hidup serba berkekurangan di daerah-daerah kumuh di pinggiran kota Roma, seperti di “Cinodromo” di sepanjang Tiber.

Komunitas ini berkembang pesat.  Tidak hanya di Roma, melainkan menyebar hingga  ke 74  negara. Tidak hanya  di Eropa, melainkan juga di belahan dunia lainnya, seperti Kamerun, El Savador, bahkan sampai ke Indonesia.

 

 Sant’Egidio Indonesia

Rumah Komunitas Sant’Egidio yang terletak di  Jalan Kaji No. 20, Petojo, Jakarta Pusat,  berdiri  pada tahun 2006, ketika Presiden Komunitas Sant’Egidio dari Italia, Marco Impagliazo, berkunjung ke Indonesia. Rumah ini juga  dikunjungi oleh Andrea Riccardi pada 12 November 2015.

Sant’Egidio Indonesia hadir di 14 kota; di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Medan, Nias, Padang, Pekanbaru, Pontianak, Kupang, dan lain-lain.  Jumlah relawannya tidak bisa dihitung dengan pasti.  Mengapa?

Sant’Egidio  bukanlah organisasi eksklusif, melainkan komunitas terbuka dengan cara membangun relasi kekeluargaan. Tidak ada formulir pendaftaran resmi bagi siapapun yang ingin bergabung,  asalkan hati nuraninya terpanggil untuk melayani kaum miskin dan terpinggirkan. Kehadiran anggota tidak pernah diabsen. Tidak ada peraturan  mengikat harus muncul minimal berapa kali dalam sebulan atau setahun. Pokoknya, benar-benar bebas.

Khusus di Jakarta, ada empat macam pelayanan komunitas ini, yaitu:

Pertama, Temu Sahabat  Jalanan,  setiap Jumat sesudah pukul  18.00.

Kedua, Sekolah Damai Sunter, setiap Minggu pukul 11.00.

Ketiga, Mensa Kedoya (Kantin Gratis) setiap Minggu pukul   15.00.

Keempat, pelayanan kasih ke Panti Werdha Santa Anna di Teluk Gong, setiap Minggu pukul 16.00.

Pelayanan Sant’Egidio di setiap kota tidak sama, tergantung pada masalah sosial yang sedang terjadi di daerah tersebut. Misalnya, ketika Gunung Merapi meletus, mengguncang Yogyakarta dan sekitarnya, Sant’Egidio langsung mendirikan posko bantuan untuk para korban bencana alam di sana. Di Medan, Sant’Egidio membantu para pengungsi Rohingya.

Menurut Ketua Komunitas Sant’Egidio Indonesia, Ign. Teguh Budiono (39 tahun), ketika ditemui MeRasul  di Rumah Komunitas Petojo, Sant’ Egidio tak sekadar memberikan makanan gratis dan mengajar anak-anak usia SD di Sekolah Damai saja.  Mereka juga membantu mencarikan orang tua asuh bagi anak-anak tak mampu, terutama yang tinggal di daerah-daerah yang susah mendapatkan akses.

Yaaa… bisa disamakan seperti program ASAK.  “Kami menyebutnya Program Adopsi Jarak Jauh. Yang menjadi orang tua asuh  adalah orang-orang Eropa, kebanyakan dari Italia. Mereka adalah anggota Komunitas Sant’Egidio Eropa.”

Teguh menjelaskan bahwa Sant’Egidio mempunyai banyak teman non-Katolik, seperti dari Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama yang ikut bergabung.  “Namun, kami tetap menunjukkan bahwa identitas komunitas kami adalah komunitas Katolik.”

Bertanggung jawab mengetuai Komunitas Sant’Egidio se-Indonesia pasti ada kesulitan yang dihadapi. Misalnya, ada teman jalanan yang sakit, sedangkan dia tidak punya BPJS  atau kartu identitas apa pun.  “Dari pihak kami, terkendala masalah dana. Tetapi, bila kami berpikir bersama-sama mencari jalan keluar, maka kesulitan itu  bisa terlampaui,” ungkap Teguh.

Setiap Sabtu, mereka berkumpul di Rumah Komunitas Sant’Egidio. Dalam kesempatan inilah, mereka saling bercerita.  “Kalau kami sudah berkumpul, bisa sampai larut malam baru pulang,” cerita Teguh.

Setiap  Minggu kedua dan keempat, seluruh anggota Sant’Egidio Jakarta  mengadakan Misa bersama di Rumah Komunitas  ini, sebagai siraman rohani  agar dapat konsisten mendampingi kaum papa.

 

Kegiatan di  Mensa Kedoya

Dalam situasi sekarang, semakin hari perbedaan  agama dan etnis terasa semakin meruncing.  Untuk meredam rasa “permusuhan” karena perbedaan golongan, Sant’Egidio mendirikan Sekolah Damai yang dibuka setiap Minggu sore. Sekolah Damai di Jakarta terdapat di dua lokasi, yaitu di Sunter dan Kedoya.

Mensa yang dikunjungi MeRasul terletak di Jalan Kedoya Duri Raya E2/18A,  Kelurahan Kedoya Selatan, Jakarta Barat. Rumah  milik Keuskupan ini  diresmikan pada 11 November 2015 dan mulai beroperasi pada 15 Januari 2016. Piere Doe yang bergabung  pada tahun 2009,  menyediakan diri  sebagai pengurus  Mensa Kedoya  sejak dua tahun yang lalu.

Pada Minggu 10 Desember 2017  datang  sekitar sepuluh pengurus. Di antaranya, Asri yang bekerja sebagai guru sejarah dan ekonomi di SMA Notre Dame, Rani yang bekerja sebagai wartawan Kontak, dan  Daniel yang bekerja di Bagian Treasury Finance Nissan – Indomobil. Setiap Minggu sekitar pukul 17.00, mereka datang  membawa 150 sampai 200 porsi makanan untuk acara makan bersama.

Sementara anak-anak bermain dan bernyanyi  dengan para kakak pengasuh di lantai dua,  beberapa orang lainnya menyiapkan konsumsi di meja-meja yang berderet panjang di lantai satu.

“Mereka semua Muslim. Pekerjaan orang tua mereka rata-rata adalah pemulung  yang  berasal dari Pandeglang, Banten, atau Indramayu. Di kampungnya, mereka bekerja sebagai buruh tani musiman,” ungkap Piere.

Frater Patrice dari Serikat Xaverian mengemukakan, “Kami mengumpulkan anak-anak  ini dan mengajarkan kepada mereka agar mengerti perbedaan dan bersahabat dengan perbedaan.”

Suatu hari, pernah ada seorang anak yang  bertanya kepada Frater Patrice, “Kakak orang ini ya?  (kedua tangannya memperagakan tanda salib). “ Frater Patrice menjawab, “Ya benar. Lalu, kenapa kalau saya orang Kristen?”

Kemudian anak itu berpikir sejenak dan merasa tidak ada yang aneh dengan Frater Patrice. “Karena saya bersikap baik kepada mereka semua. Selanjutnya, dia tidak pernah menanyakan urusan agama lagi,”  lanjut Frater Patrice.

Komunitas Sant’Egidio tidak mengajarkan pelajaran akademik seperti di sekolah umum. Yang diajarkan di Sekolah Damai adalah karakter dan nilai-nilai hidup yang baik.  Salah satunya adalah datang tepat waktu.  Jika  ada anak yang datang terlambat maka diberikan “hukuman”,  yaitu  tidak mendapat hadiah atau goodie bag. Jadi, mereka belajar dari hal-hal kecil, dari interaksi yang terjadi.

“Kami  ajarkan kepada mereka bagaimana bersahabat  dengan tulus, tanpa mempersoalkan perbedaan. Karena  kami tidak pernah menyinggung sedikitpun tentang agama, maka acara dimulai tanpa doa pembukaan dan berakhir tanpa doa penutup.  Begitu pula tidak ada doa sebelum makan.  Kami hanya mengucapkan, ‘Ayo mulai makan!’, ” sambung Piere.

***

Apabila  kita ingin mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan, hendaknya kita  mengetahui selera Tuhan di dalam Injil.  Kita dapat menemukan pesan-Nya di dalam Injil  Matius 25:40,  “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”

“Kita sering berpikir, bila kita tidak pernah berbuat jahat, maka kita sudah merasa cukup.  Tetapi, Tuhan meminta kita untuk melakukan kebaikan.”  (Cuplikan khotbah  Paus Fransiskus  pada Hari Orang Miskin Sedunia,  19 November 2017).

Pada 15 Desember 2017 di Rumah Komunitas Petojo, Ina, Tina, Giok, Chandra, Erlip, dan kawan-kawan lainnya sibuk menyiapkan acara makan siang bersama dan hadiah Natal untuk dibagikan kepada anak-anak yang mereka cintai pada 25 Desember. Ruangan di lantai satu penuh dengan ratusan kado. Di setiap kado tertulis satu nama anak.

Ternyata,  sebagaimana kisah Santa Claus yang setiap tahun memberi hadiah sesuai  permintaan tiap anak, anak-anak itu telah menyebutkan satu permintaan sebelumnya. Lalu, kakak-kakak pengasuh berusaha  mewujudkan keinginan  mereka.

***

Pemuda-pemudi Sant’Egidio  memberikan rasa kasih dan sukacita yang mungkin jarang sekali menghampiri kaum papa.  Mereka telah lama keluar dari dalam tembok gereja; pergi  menyebar dan mendekatkan diri dengan kelompok masyarakat yang terpinggirkan sebagaimana imbauan Bapa Paus Fransiskus.

Mereka telah menemukan iman Katolik sejati di emperan-emperan jalan, di antara anak-anak Sekolah Damai, di Panti Werdha  St. Anna, di tenda-tenda darurat pengungsian korban bencana alam,  korban peperangan, dan banyak tempat lainnya.

“Ini adalah kekuatan yang sesungguhnya : bukan kepalan tangan dan lengan yang siap menangkis. Melainkan tangan yang ringan dan selalu siap untuk membantu orang miskin, untuk tubuh Tuhan yang terluka.”  (khotbah Paus Fransiskus pada Hari Orang Miskin Sedunia, 19 November 2017).

Sinta

Referensi dari www.santegidio.org