Liputan Misa Kamis Putih

Alkisah, ada seorang ayah yang pernah berbuat suatu kesalahan terhadap istri dan anaknya. Setelah istrinya tiada, sang ayah menggantikan peran istrinya. Ia membesarkan anaknya dan berusaha keras untuk memperbaiki kesalahan yang dulu diperbuatnya itu. Namun sayang, anaknya tidak mudah untuk memaafkannya.

Singkat cerita, berkat usaha teman-teman sekolah anaknya, akhirnya sianak terbuka matanya bahwa sesungguhnya ayahnya telah bertobat. Anaknyapun menyadari bahwa dengan memendam kebencian di hatinya, ia telah menghukum dan menyiksa ayahnya.

Narasi di atas adalah sebuah film pendek keluaran Keuskupan Agung Jakarta. Video ini diputar sepuluh menit sebelum Misa Kamis Putih dimulai, didahului dengan penjelasan singkat Rm. Thomas Ferry Suharto, OFM.

Pesan dalam film yang berjudul “Maafkan Aku, Bapak” tersebut diperkuat dengan homili Rm. Herman, yang memimpin misa Perjamuan Kudus terakhir jam 21.30, tanggal 18 April 2019 lalu.

“Tidak ada kekuatan yang lebih besar daripada kekuatan Cinta Kasih. Cinta kasih insani atau manusia, hendaknya selalu dihidupkan di dalam Cinta Kasih Allah.

Cinta kasih memang tidak mudah diwujudkan. Cinta kasih Tuhan tidak hanya diberikan kepada orang yang menyayangi kita, melainkan justru diberikan kepada orang-orang yang membenci kita, alias musuh-musuh kita.

Kasih itu begitu luas dan perlu pembuktian berupa pengorbanan yang besar. Ia harus melepaskan keangkuhan dan ego, sehingga dapat merendahkan harga dirinya.” Demikian intisari khotbah Rm. Herman.

Pada malam Kamis Putih ini, kita semua hendak memperingati makna Cinta Kasih Tuhan. Yesus memberikan teladan arti kata melayani dengan membasuh kaki kedua belas murid-Nya. Yesus datang bukan untuk dilayani, melainkan merendahkan diri-Nya untuk melayani.

“Aku Tuhan dan Gurumu, membasuh kakimu. Kamupun harus membasuh kaki satu sama lain. Aku memberi teladan kepadamu supaya kamu berbuat seperti yang Kuperbuat untukmu.” Begitulah pesan-Nya yang harus selalu dipegang teguh hingga sekarang oleh kita semua sebagai pengikut-Nya.

Dirigen Aris Kristiadi memimpin Paduan Suara SALVE REGINA mengiringi Misa Perjamuan Kudus pada malam itu, membuat suasana terasa suci dan khidmat.

Setelah Rm. Herman memimpin perarakan Sakramen Mahakudus, misa berakhir sunyi tanpa lagu penutup. Umat melanjutkan doa tuguran.                Sinta.